Mengenal kue pohul-pohul, apa resep dan apa maknanya bagi masyarakat Batak?

Posted on

Kue Pohul-pohul atau sering disebut oleh masyarakat batak itak pohul-pohul adalah makanan ringan khas tradisional suku bangsa Batak dari Sumatera Utara yang sarat makna. Pohul-pohul sudah dikenal oleh masyarakat Batak sejaka dahulu kala. Bahkan kue ini menjadi bagian tak terpisahkan dari beberapa seremonial adat Batak.

Pohul-pohul terbuat dari tiga bahan utama yaitu tepung beras, kelapa parut dan gula merah. Ketiganya dicampur menjadi adonan dan kemudian dibentuk dengan menggunakan kepalan tangan (dipohul/dikepal). Itulah sebabnya kue ini disebut pohul-pohul karena cara membentuknya menggunakan tuangan sederhanan yaitu kepalan tangan. Sehingga bentuk kue ini pun sangat unik yaitu mengikuti bentuk kepalan tangan dan bekas jari. Pohul-pohul dapat dimakan mentah atau dikukus terlebih dahulu.

Makna Filosofis

Pohul-pohul sering disajikan pada acara adat “marhusip”. Marhusip adalah sebuah musyarah adat persiapan pernikahan sepasang calon pengantin. Musyarah ini melibatkan raja adat, raja paranak dan raja parboru untuk mencapai kesepakatan adat yang akan dilangsungkan pada hari-H pesta adat pernikahan dimaksud.
Nah, dalam musyawarah adat ini, seringkali pembicaraan menjadi alot dan tak jarang terjadi perdebatan dan suara-suara keras, namun tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan yang kokoh yang sesuai dengan norma-norma adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat Batak.
Filosofi pohul-pohul dalam perhelatan ini adalah “purpar pande dorpi jumadihon tu rapotna” yang bermakna tukang kayu yang sedang mengerjakan dinding menimbulkan suara gaduh dan ribut untuk menghasilkan dinding papan yang kokoh, rapat dan kuat. (TM Sihombing – 1977).
Makna pertama adalah, sebagaimana pohul-pohul dalam membentuknya diremas kuat-kuat sehingga membentuk kue yang tidak gampang hancur.

Makna yang kedua, bekas kelima jari dalam permukaan kue pohul-pohul melambangkan dua hal yaitu jabatan tangan tanda kesepakatan dan juga melambangkan lima waktu penting dalam budaya Batak yang disebut “hatihasilima” yaitu : poltak mata ni ari (saat terbit matahari), pangului (pagi hari), hos ari (tengah hari), giling ari (jelang sore), bot ari (matahari terbenam). Dalam keseluruhan waktu itu, kedua belah pihak harus ingat kesepakatan dan siap siaga saling membantu. Kesepakatan harus jadi hari ini bukan besok dan kesepakatan itu harus sama-sama menyenangkan semua pihak dan siap saling membantu.

Baca juga: Lezatnya Mie Gomak Makanan Khas Batak, Apa Resepnya?

Adapun resep dan cara membuat kue pohul-pohul adalah sebagai berikut:

Bahan :
500 g tepung beras baru
1 1/2 butir (600 gram) kelapa muda, kupas kulit ari dan diparut
150 gram gula merah, sisir kasar
Cara membuat :
campur semua bahan dengan sedikit air (air masak yang sudah didinginkan), ambil sekepal adonan, kepal-kepal hingga membentuk jari. kukus dalam dandang selama 15 menit hingga matang, sajikan.
Untuk  yang mentah, setelah dikepal itak diletakkan dalam piring kecil, bisa langsung dimakan, Atau untuk mempercantik,  tuangi santan encer secukupnya, taburi beberapa butir beras mentah dan irisan gula aren.
note: terimakasih bro Parman Rumabutar buat gambarnya

3 thoughts on “Mengenal kue pohul-pohul, apa resep dan apa maknanya bagi masyarakat Batak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *